Rabu, 16 Januari 2013


Kesimpulanku Dalam Berfilsafat

Filsafat ilmu merupakan sesuatu yang baru bagi saya. Selama sekolah atau kuliah saya belum pernah mendapatkan pelajaran filsafat. Awal mulai mendapatkan mata kuliah ini saya pikir sama seperti mata kuliah lain yang pernah saya alami. Mungkin kuliah akan diisi dengan memberikan materi dan presentasi sama seperti mata kuliah yang lain. Waktu demi waktu yang saya lalui untuk belajar filsafat, saya semakin merasakan strategi yang biasa saya gunakan dalam mengikuti mata kuliah yang lain benar-benar tidak efektif. Saya baru menyadari filsafat itu seperti samudera yang sangat luas dan dalam, saya tidak tahu dari sisi mana untuk mulai menyelaminya. Saya mencoba memulai dari satu sisi yang saya yakini paling mudah, tetapi rasanya juga tidak mudah karena sisi itu juga sangat dalam. Saya mencoba untuk melihat gambaran besarnya secara menyeluruh, tetapi indera ini juga tidak mampu, karena samudera itu seolah tak terbatas.
Kita berpikir menyangkut hal yang ada dan yang mungkin ada, tak ada ruang waktu yang dapat membatasinya. Kita bisa berpikir mengenai masa lampau, masa sekarang, bahkan masa yang akan datang. Berpikir juga tidak terikat oleh jauh dekatnya objek yang kita pikirkan. Begitu luasnya yang dapat kita lakukan pada saat berpikir sehingga kita perlu belajar bagaimana tata cara yang seharusnya kita lakukan pada saat berpikir. Tata cara dalam berpikir itulah yang disebut dengan filsafat. Banyak hal di dunia ini yang apabila dilakukan terdapat tata cara bagaimana melakukan hal tersebut. Seperti dalam melakukan ibadah, misalnya pada kaum muslimin yakni ibadah sholat. Dalam melakukan sholat, kaum muslimin tidak serta merta melakukan dengan sesuka hati. Tetapi terdapat tuntunan atau tata cara dalam melakukannya, seperti wudhu, niat, ruku’, sujud dan seterusnya. Begitu pula dalam berpikir, terdapat adab atau tata cara yang dapat dipelajari dalam melakukan olah pikir.
Dalam mempelajari filsafat atau berfilsafat hanya diperlukan dua macam bekal saja yakni berpikir kritis atau berlogika dan pengalaman. Berfilsafat harus dimulai dari pemikiran-pemikiran yang remeh dan sepele. Sehingga dalam berfilsafat tidak perlu menunggu suatu kejadian yang besar dan menggemparkan dunia. Pengalaman juga diperlukan dalam berfilsafat, semakin banyak pengalaman hidup yang diperoleh maka semakin mudah orang tersebut mencapai titik tertinggi dalam berfilsafat.
Banyak orang yang berfilsafat bisa mencapai titik tertinggi tersebut, tetapi mengindahkan bahwa di atas titik tersebut terdapat yang lebih tinggi yakni spiritual. Spiritual digariskan secara absolout yang diturunkan melalui norma-norma sesuai dengan agama dan kepercayaan masing-masing. Setinggi-tinggi ilmu, secanggih teknologi berkembang, jangan sampai kita meninggalkan spiritual. Jika dapat dibandingkan, maka perbandingan berfikir filsafat dengan spiritual adalah satu berbanding dengan sepuluh. Sejauh-jauh pengembaraan dalam filsafat, sedalam-dalamnya berfilsafat, setinggi-tingginya dalam berfilsafat maka kita harus kembali kepada dimensi spiritual.
Untuk menguasai filsafat, seseorang tidak dapat memilih filsafat apa yang akan dipelajari karena semua saling berikatan berhubungan. Filsafat selalu memiliki hubungan dengan yang lain. Seseorang tidak bisa hanya belajar filsafat dari satu sumber pemikiran saja ataupun dari satu filsuf saja, akan tetapi harus menyeluruh dan mendalam. Jika sesorang sudah merasa bosan dalam mempelajari filsafat, maka yang perlu dilakukan adalah berhenti sejenak dalam berpikir.
Filsafat merupakan kajian tentang berpikir. Kalau kalau ada pertanyaan seberapa pentingkah filsafat, maka jawabannya adalah seberapa pentingkah berpikir untuk kalian. Kapan seseorang dikatakan telah menguasai filsafat? Bahkan tidak ada seorang filsuf pun yang mengaku dirinya filsuf. Hanya orang lain sajalah yang menyebutnya sebagai filsuf. Barang siapa mengaku dirinya seorang filsuf, maka sebenar-benarnya dia bukanlah filsuf. Para filsuf pun terus berusaha memperlajari filsafat, apalagi selaku pembelajar awal tentunya terus berusaha untuk mempelajari filsafat. Untuk meningkatkan kemampuan kita dalam berfilsafat adalah dengan melakukan refleksi. Dengan melakukan refleksi, kita akan mengetahui kemampuan otak kita. Refleksi merupakan merupakan hal mendasar pada ranah ilmu jiwa. Refleksi merupakan tingkatan paling tinggi karena di dalamnya terdapat judgement. Hal ini sesuai yang diungkapkan oleh Kant bahwa hakikat tertinggi dari berpikir adalah judgement.
Terima kasih untuk bapak Marsigit selaku dosen yang telah memberikan bacaan-bacaan yang menunjang saya dalam mempelajari filsafat yakni melalu elegi-elegi yang telah bapak buat. Kegiatan merefleksikan elegi tersebut merupakan kegiatan yang tidak saya sadari dapat membuka pikiran saya menjadi lebih berkembang dalam menyelami suatu hal yang ada dan yang mungkin ada dalam dunia ini. Sekaligus menjadi bahan refleksi bagi diri sendiri akan kekurangan dan kelemahan saya sebagai manusia biasa yang hendaknya tidak boleh berhenti untuk menggapai menjadi insan yang baik. Amin.



Intuisi adalah Berpikir Alami

Berpikir alami biasa disebut dengan intuisi. Intuisi dapat juka dikatakan sebagai pemahaman yang diperoleh secara langsung, tanpa perantara, tanpa rentetan dalil dan susunan kata, serta tanpa melalui langkah-langkah logika satu demi satu. Tetapi dalam intuisi juga belum tentu benar, bisa saja intuisi itu salah. Misalnya pada saat berjalan di alun-alun slatan dengan menutup mata, ternyata perjalanan kita bisa membelok walau kita sudah merasa yakin jika kita telah berjalan lurus. Pada saat itu kita menutup mata maka kemampuan intuisi ruang kita merosot sehingga kita bias berjalan tidak sesuai dengan apa yang kita kehendaki.
Yang dikatakan ilmiah itu berdimensi, mulai dari berpikir ilmiah dengan menggunakan metode ilmiah. Metode ilmiah itu adalah suatu metode berpikir. Seperti yang telah dibahas bahwa metode berpikir biasa adalah intuisi, sedangkan intuisi itu bermacam-macam dan sangat penting dalam kehidupan kita. Intuisi kita itu hampir lebih dari 90% dan hanya kurang dari 2% saja aspek dari kehidupan yang kita jalani yang dapat didefinisikan. Berpikir alami atau intuisi tidak perlu didefinisikan tapi sangat perlu dan bermanfaat untuk digunakan.
Dalam berpikir ilmiah, ilmiah itu bisa di katakan sebagai pemikiran matematika yang formal yang berisi unsur-unsur primitip yang tidak perlu di definisikan. Contohnya bilangan tidak perlu didedfiniskan, tetapi bilangan prima, bilangan genap, bilangan ganjil harus di definisikan sedangkan  bilangan itu sendiri tidak perlu didefinisikan karena semua orang telah dianggap mengetahuinya. Agar kita memperoleh intuisi ada syaratnya, kita harus mempunyai persepsi, pemahaman atau pengetahuan yang mendahului intusi. Jadi jika ingin melewati dua bringin tadi kita bisa menggunakan sensibliti pada saat intuisi kita dikurangi. Jadi berpikir alami adalah intuisi menggunakan sensibility.
Apakah kita pernah berniat melatih dan mengembangkan intuisi kita, menjadi sebuah kekuatan yang membantu dalam mencari solusi-solusi hebat di dalam hidup kita? Jika belum, maka saatnya kita melatih intuisi kita. Intuisi itu bisa diartikan sebagai energi sukses yang ada di dalam diri kita. Jika kita  kelola secara profesional, maka intuisi akan menjadi kekuatan yang mampu membimbing setiap langkah kita menuju sukses. Intuisi selalu muncul dalam wujud perasaan yang mendorong pikiran sadar kita, untuk mengambil sikap dan tindakan yang diperlukan dalam mencapai hal-hal terbaik di dalam hidup kita.
Sebetulnya kita harus bersyukur  masih dikaruniai panca indra yang lengkap sehingga masih bisa menggunakan intuisi dengan optimal. Berbagai macam orang berbagai macam pula permasalahannya, misalnya ada yang mempunyai mata berdimensi kemampuan, dari yang tidak bisa mlihat jauh, tidak bisa mlihat dekat, dsb. Sensibility sangat penting dalam intuisi, sementara batas pemikiran kita yang biasa adalah formal. Jika sudah sampai diatas dinamakan transenden, perasaan kita adalah transeden, spiritual kita adalah transeden, berpikir kita adalah transeden, rasio kita adalah transeden.
Intuisi memiliki peranan yang cukup penting dalam kehidupan seseorang. Intuisi adalah istilah untuk kemampuan memahami sesuatu tanpa melalui penalaran rasional dan intelektualitas. Intuisi terletak dalam setiap orang, dan setiap orang selalu mengguankan intuisi mereka untuk menyelesaikan setiap permasalahan dalam kehidupannya. Intuisi merupakan suara hati yang paling dalam, yang paling jujur, sehingga kita perlu melatih intuisi kita, agar kita dapat menggunakannya sebagai penuntun kita dalam menghadapi semua hal dalam kehidupan ini.



Menembus Ruang dan Waktu

Seseorang atau makhluk bisa menembus ruang dan waktu sangatlah hebat. Jika berpikir filsafat maka profesional yaitu cirinya lebih spesifik dan rinci serta dapat diberikan contohnya. Menembus ruang dan waktu tidak ada subjeknya maka apabila kita beri siapa yang akan menembus ruang dan waktu maka akan menjadi lebih rinci lagi. Ternyata manusia mempunyai dimensi yang lengkap, yaitu dimensi material, formal, normatif dan spritual. Dan karakter menembus ruang dan waktu ternyata mempunyai karakter yang berbeda, secara material misalnya kita terjun payung maka kita berpindah dari tempat yang tinggi ke tempat yang rendah, secara formal misalnya kenaikan pngkat, secara normatif misalnya pikiranku bisa menembus ruang dan waktu dengan sekejap pikiranku bisa sampai dengan cepat di London, Tokyo dsb, apalagi secara spritual karena hukumnya doa lebih cepat dari pikiran. Menembus ruang dan wktu adalah apa dan siapa apakah dengan sadar atau tidak sadar.

Ruang itu dapat dimisalkan sebagai dimensi satu, dimensi dua, dimensi tiga seperti di dalam matematika. Dimensi, material, formal, normatif, dan spritual juga adalah ruang. Tua muda, suami istri juga merupakan ruang. Maka yang ada dan yang mungkin ada mempunyai dimensi ruang. Berfilsafat itu harus mempunyai ketrampilan menembus ruang-ruang yang ada kalau tidak fisikku maka formalku. Jika dalam menembus, dikenalnya diri di kampung adalah formal. Waktu ada tiga macam menurut Kant, yaitu waktu kerurutan, berkelanjutan dan bersatuan. Untuk bisa memahami ruang kita gunakan waktu, untuk bisa memahami waktu kita gunakan ruang.

Secara normatif bagaimana kita menembus ruang dan waktu? Ada metodologinya, yaitu: pemahaman kita akan fenomenologi (didalamnya memuat ruang dan waktu) dan pemahaman fondalisme atau anti fondalisme (intuisi). Femonolgi tokohnya Husserl, di dalam femonolgi apapun nantinya diterapkan dalam matematika karena hubungannya sangat dekat. Di dalam femonologi tersebut ada dua macam: idealisasi dan abstraksi. Idealisasi adalah menganggap  sempurna sifat yang ada, karena di dunia ini tidak ada yang sempurna. Abstraksi adalah kodrat, dipilih atau memilih, atau kegiatan mereduksi (reduksionisme). Hakekatnya manusia itu reduksionis, dimana kita akan mati saja sudah ditentukan. Lahir dan mati bagaikan fungsi korespodensi satu-satu, manusia yang lahir pasti akan mati. Tidak ada manusia yang lahir sekali tapi dalam hidupnya bisa mati sampai lima kali. Hidup juga kontradiksi, karena pada saat kita bersifat reduksi maka disaat yang sama kita bersifat melengkapi. Manusia berusaha untuk melengkapi hidupnya, ilmunya, keluarganya, inilah sebenar-benarnya kita bersifat kontradiksi.

Husserl merasa untuk membuat rumah yang dinamakan rumah epoke. Ialah rumah untuk tempat bagi semua yang tidak aku pikirkan, di penjarakan di dalam rumah ini. Inilah filsafat, terdapat rumah pikiran bukan secara formal. Jadi yang tidak dipikirkan itu adalah sulit, karena apa yang kita bicarakan maka menjadi subjek yang kita pikirkan dan tidak bisa disimpan dalam epoke. Yang bisa dimpan di epoke adalah yang tidak kita pikirkan atau kita abaikan. Manusia tidak bebas dari idealisasi dan abstraksi karena tanpa keduanya manusia tidak akan bisa hdup. Ketika kita berdoa maka pusatkan pikiran kita. Penggunaan epoke terdapat material formal yang ada yang diperlukan. Jika kita ingin membangun matematika, kita harus melengkapi ilmu-ilmu yang lain. Jika kita belajar segitiga hanya fokus terhadap bentuk dan pikiran. Maka yang kita pelajari adalah yang ada dan yang mungkin ada. Kita terapkan rumah epoke kedalam kehidupan sehari-hari, cowok cewek berteman dan kemudian jadian, sesaat setelahnya sudah harus pandai-pandai untuk memasukkan ketertarikan dengan yang lainnya ke dalam rumah epoke. Istrimu adalah dirimu yang lain, suamimu adalah dirimu yg lain. Supaya kita terampil menembus ruang dan waktu, maka kita perlu pintar-pintar untuk menggunakan rumah epoke.

Pengertian, the fondasionalism dan anti fondasionalism. Contoh yang paling penting dalam matematika adalah kaum formalism (Hilbert). Barang siapa yang menetetapkan permulaan percaya adanya permulaan, maka dia adalah kaum pondasionalism, karena percaya akan adanya kausa prima. Sebab dari segala sebab adalah kausa prima bagi seorang spiritualis. Membangun rumah tangga dengan pondasi ijab qobul. Kesombongan dari sebuah fondasionalism dapat membuat orang menjadi berantakan. Dalam matematika terdapat suatu pondasionalism, karena di dalam matematika terdapat suatu definisi.

Sejak kapan kita bisa membedakan antara tinggi dan rendah, sejak kapan kita bisa membedakan antara jauh dan dekat. Itulah yang dinamakan intuisi. Kalo anda tidak bisa menentukan suatu permulaan, itulah juga intuisi. Tidak perlu kita membicarakan definisi mengenai jauh atau dekat. Manusia mempunyai kemampuan qualitatif dan quantitatif. Banyak sekali penggunaan matematika yang diajarkan secara formal menurut fondasionalism, sehingga merusak intuisi matematika. Maka kita sebagai calon guru di harapkan untuk bisa mengantarkan kembali intuisi-intuisi yang ada kepada murid-murid kita.



Hakekat Berfilsafat

Filsafat merupakan tata cara dalam berpikir. Banyak hal di dunia ini yang apabila dilakukan terdapat tata cara bagaimana melakukan hal tersebut. Seperti dalam melakukan ibadah, misalnya pada kaum muslimin yakni ibadah sholat. Dalam melakukan sholat, kaum muslimin tidak serta merta melakukan dengan sesuka hati. Tetapi terdapat tuntunan atau tata cara dalam melakukannya, seperti wudhu, niat, ruku’, sujud dsb. Begitu pula dalam berpikir, terdapat adab atau tata cara yang dapat dipelajari dalam melakukan olah pikir.



Jika kita mempelajari tata cara filsafat sama saja dengan kita sedang berfilsafat. Filsafat mempunyai karakter altima, yakni puncak. Puncak berpikir, puncak keadaan, ataupun puncak urusan dunia. Walaupun terdapat kendala dalam berfilsafat yakni berasal dari keadaan. Karena kehidupan tidak akan lepas dari keadaan, saking pentingnya keadaan maka dalam filsafat kehidupan dapat didefinisikan sebagai keadaan. Sedangkan unsur dari keadaan adalah potensi dan fakta.  Artinya dalam menjalani kehidupan, kita sebagai manusia mempunyai potensi dan fakta. Potensi merupakan suatu keinginan atau cita-cita yang ada pada diri manusia. Sedangkan fakta merupakan hal yang sedang terjadi atau dialami oleh manusia.



Dalam mempelajari filsafat atau berfilsafat hanya diperlukan dua macam bekal saja yakni berpikir kritis atau berlogika dan pengalaman. Berfilsafat harus dimulai dari pemikiran-pemikiran yang remeh dan sepele. Sehingga dalam berfilsafat tidak perlu menunggu suatu kejadian yang besar dan menggemparkan dunia. Pengalaman juga diperlukan dalam berfilsafat, semakin banyak pengalaman hidup yang diperoleh maka semakin mudah orang tersebut mencapai altima dalam berfilsafat.



Seperti yang telah disebutkan, bahwa filsafat adalah altima yakni puncak atau tinggi. Tetapi diatas filsafat ada yang lebih tinggi lagi yakni spiritual. Maka metode berfilsafat pada hal tertentu sama dengan metode spiritual dan juga menyangkut metode keilmuan serta menyangkut metode-metode dalam kehidupan sehari-hari yang dirangkum menjadi satu.  Sehingga metode yang digunakan untuk mempelajari filsafat adalah metode kehidupan karena sesungguhnya filsafat sendiri adalah hidup. Metode hidup adalah apa yang kita alami dari semenjak lahir sampai sekarang kita menghirup nafas.  Kita pernah menulis, membaca, berjalan, menjelaskan, bertanya, itu semua adalah metode hidup yang pernah kita alami. Untuk mengetahui filsafat kita perlu banyak pertanyaan, saking pentingnya pertanyaan dapat dikatakan sebenar-benarnya berfilsafat adalah mengutarakan banyak pertanyaan.



Banyak orang yang berfilsafat bisa mencapai titik altima, tetapi mengindahkan bahwa di atas titik tersebut terdapat yang lebih tinggi yakni spiritual. Spiritual digariskan secara absolout yang diturunkan melalui norma-norma sesuai dengan agama dan kepercayaan masing-masing. Setinggi-tinggi ilmu, secanggih teknologi berkembang, jangan sampai kita meninggalkan spiritual. Jika dapat dibandingkan, maka perbandingan berfikir filsafat dengan spiritual adalah 1: 10. Sejauh-jauh pengembaraan dalam filsafat, maka kita harus kembali kepada dimensi spiritual.



Pertanyaan:

1.      Salah satu karakter filsafat adalah altima atau mencapai titik puncak dalam berpikir. Sebenarnya indikator apa yang bisa menjadi tanda bahwa kita berada pada titik altima dalam berfilsafat?

2.      Bekal untuk berfilsafat adalah berpikir kritis dan pengalaman. Sedangkan keduanya mempunyai tingkatan yang berbeda untuk setiap orang. Seberapa besar pengaruh dua hal tersebut dalam berfilsafat?

Selasa, 20 Maret 2012


Developing Innovative Teaching Learning Mathematics



One of the problems found in students learning of mathematics is not given the opportunity to develop and apply these concepts in a matter of mathematics to solve problems of their lives. The learning process more focused on the ability to memorize information and the ability to calculate. This may be related to the history of mathematics learning in Indonesia. We know that the learning of mathematics in ancient era, one way of learning activities so that teachers always give the material to the students without giving students the opportunity to explore and understand the material or concept are given. Teachers also teach students about the only method of memorizing a formula or a material so that students are not able to understand the meaning of material or concept.



Today many teachers who have the wrong notion of mathematical learning activities. they think that learning math so that students can solve the problems properly. So they are content with giving the formula and give students lots of practice to work on the problems. The government is implementing the national exams (UAN) as a tool to measure student success in learning, become a true reason for the teacher. The most important thing that students can work on the national exam questions correctly so that it can pass with good grades, then the teacher will give a lot of practice exam questions that the students will have plenty of experience in work on the problems. The teacher only gives the solution to a problem, but the teacher not give the meaning of a concept and concept relationship with the matter. As a result of this learning method is a graduate school student have the ability in the theory of conceptual and arithmetic skills are good. But students do not have the ability to understand the contextual meaning of a concept.



Development of mathematics teaching should be carried out because not enough students have the ability to calculate and memorized the math materials only. Remain students need to know the meaning of the material and mathematical concepts. So that students can apply math concepts to everyday life and develop the mathematical sciences. But if the teacher is still a passive learning activities and students are not given the opportunity to understand the meaning of a concept the students will be stuck in the learning activities that make students bored. The result of this is that students become increasingly dislike of mathematics, or maybe the students would hate to mathematics. If the students interest and motivation is low then the results of studying mathematics achievement also be low. In order for the interest and motivation in learning mathematics is high, teachers need to innovate in learning activities. Learning activities that make boring and monotonous as it contains only a matter of memorizing the material and training needs to be left alone. Teachers can add some innovative activities in the learning activities so that students do not feel bored and feel happy and self-motivated students to learn mathematics.



Meaning of the word can mean innovative is a new, more useful, and better. So that learning is an innovative learning designed by the teacher, has a new nature, not as is commonly done, and aims to provide facilities for students to construct their own knowledge, as the process of behavior change toward a better fit with the potential and the difference that the students . In the context of teaching and learning program, an innovative learning program created as an effort to find a solution to a problem. This is because the learning program has not been done or the kind of learning program is being run but needs improvement. According to Putu Sudiarta (2010:14-15) emphasizes that a learning parameter to be regarded as an innovative learning should have one or more principles:

1.      student-centered: emphasis on active student learning than just students notes and memorize.

2.      Multiple Intellegence: accommodate all the potential and aspects of learning, because students have multiple intelligences and variation.

3.      holistic education: students view learning as a whole creature.

4.      experiencial learning: prioritizing learning experience meaningful.

5.      problem based learning: open space for solving the problem.

6.      cooperative learning: an opportunity to learn through collaboration.

7.      contextual teaching and learning: open space to learn from real life.

8.      constructivist teaching and learning: open learning significant responsibility as an autonomous teacher.

9.      metacognitif: open space for meaningful learning through the whole process of thinking, systemic and systematic.
10.  learning with understanding: meaningful learning emphasis with a deeper understanding.


Teachers in making innovative learning activities should pay attention to these principles. So that teachers will not be caught in traditional learning, but teachers trying to implement and develop innovative learning. Before teachers begin learning activities, teachers can provide inspiration for students to love math. Some of the children or students do not like math because they do not know the point. Do not like reading or drawing, mathematical symbols and numbers as meaningless. Indicate how important mathematics in everyday life or in the real world. The teacher gave the story making a pyramid in Egypt, astronauts traveling to Mars, nothing can be achieved without mathematics and mathematicians.




http://blog.tp.ac.id/wp-content/uploads/6723/download-makalah-model-inovatif_prof-sudiarta.pdf

Selasa, 06 Maret 2012


Characteristics of Traditional Teaching Mathematics in Indonesia

History of mathematics learning in Indonesia begins after Indonesia take independence from the Dutch. So that the task of rebuilding the nation's character after the colonial period, the government made changes in all fields, including education. Government include mathematics as a compulsory subject to be taught at all levels of education
Learning mathematics at this time is developed based on the theory of learning behaviouristik. This theory assumes that a person has learned something if he can show changes in behavior. According to this theory the most important learning is the stimulus and the response. Stimulus is a question about a problem from the teachers is given to the student in learning activities. While the response is a reaction or response from the stimulus provided by the teacher. The process of stimulus to response is not considered because the important thing is that students can work on or solve the problem given by the teacher. So that learning activities more focus on the activities of practice and repetition. Teachers give a problem and how to resolve the problem to the students. Then the students just do it and then repeat the exercise again. More and more students are doing these activities the students will be more understand.
If viewed from the historical development of mathematics teaching in Indonesia, traditional mathematics developed in Indonesia have different characteristics from that developed in mathematics today. Some of the characteristics found in the traditional mathematics:
1. The teacher's role is central in the learning activities. Teachers teach science, teachers directly prove the arguments, the teacher gives examples of questions. While students must sit neatly and listen, copy the patterns of a given teacher, follow the ways teachers completed the questions.
2. The students very passive. Students are not given the opportunity to develop their potential, students only do the activities undertaken by teachers. Students are given only think about how to do or solve problems, students are not given the opportunity to think why do such steps in solving the problem.
3. Students can only memorize. Students usually busy with memorization methode and practice the skills so students have less opportunity to understand the concept of the material provided. This problem causes students not only understand the concept completely, so that curiosity about the concept become lost. Students will become less interested in understanding the material in more detail.
4. The material is not sustainable. There is a material or topic at the top level that has never been taught in  previous learning. So that students will feel not familiar with the materials provided and cause difficulties for students to understand.
5. The material presented is generally less associated with daily life and many materials used in everyday life is not even taught to students. For example, in the arithmatical not learn statistics whereas statistics in  everyday life more often used. Similarly, in geometry lessons usually taught to calculate area of regular shapes as a cube, prisms, and etc. But rarely taught how to calculate area of irregular shape never though whereas we often meet it in everyday life.

Selasa, 28 Februari 2012


The Factors Affecting Teachers Become Lazy to Make The Syllabi

One of the factors that affect the learning of mathematics is the syllabi. Teachers have a duty to educate, teach, and train students in the school. The duty can be done well if before learning math activities, teachers create a syllabi in advance.

Why should create a syllabi? Teachers need to create a syllabi because the syllabi is a guide that contains sequence the students activities are arranged in sequence so that students can achieve the basic competencies that have been determined. So teachers can make a plan how the methods to be used in teaching a mathematics concept to students. In addition, teachers can also prepare instructional media to be used in the learning activities such as student worksheets and teaching aids. Therefore, teachers should make their own syllabi. Because the design of activities in the syllabi will be implement by the teachers themselves, so that the syllabi should be made based on the circumstances and the diversity of students who will be taught where no one knows it better than the teachers themselves.

But what happens are different things, most teachers have a feeling lazy to make the syllabi. Some factors that make teachers feel lazy to make the syllabi are:
  • First, teachers feel they have not ability to make the syllabi, the reason usually said most senior teacher. Perhaps because they usually get the design of the learning from government so they have a mind like that.
  • Secondly, teachers feel they have no time to make the syllabi because they busy at home. This should not be made the reason for not making the syllabi, because someone who worked as a teacher should be prepared and responsible for the duty.
  • Third, teachers think in the teaching learning not need the syllabi. Indeed there are some teachers who can teach well without having to create a syllabi in advance. But not all teachers like that, there are still many teachers who teach less well although they makes the design of learning in the syllabi. If teachers not create syllabi, so learning activities may will be chaotic.

Variety of reasons from the teacher, it is not an acceptable. Whereas by create the syllabi, teachers can do reflection about the methods used in teaching mathematics. So that teachers can find teaching methods that need to be improved for the next learning to be better. The solve the teachers want to create a syllabi, need to work together with the headmaster. So teachers have to make a presentation about the syllabi to the headmaster. And to check the originality of the syllabi, headmaster must do supervise in the class. This is done to adjust the plan contained in syllabi with the application in the class. If appropriate, it can be stated that the competence of teachers in create the syllabi is valid (not plagiarized or made someone else). If not fit then it can be said that the syllabus was made by someone else.

Selasa, 13 Desember 2011


Metodologi Pembelajaran Matematika

By: Dr. Marsigit, M.A
Reviewed by : Fikri Hermawan

Commonly, mathematics teachers get difficulties to handle the differences of students’ abilities. The teachers inhibit the activities of smart students to wait fot the less intelligent students. And to the less intelligent students, teachers try to involve so that they can chase the smart students although it seems so hard to do.

Ebbutt and Straker (1995: 10-63), gave the guiding to the mathematics teachers to involve so that the students feel fun with mathematics in school. The guiding that they gave is based on basic assumption about the nature of mathematics and the nature of learner:
a. Mathematics is the activity to search pattern and relationship.
b. Mathematics is creativity which need imagination, intuition, and discovery.
c. Mathematics is problem solving activity.
d. Mathematics is communication tool.

In the other side, Ebbutt and Straker (1995: 60-75), gave their view in order to students’ potention can be developed optimally, then these assumptions and implications can be the references:
1. The students will learn if they get motivation.
2. The students learn by their own ways.
3. The students learn independently and by colaboration
4. The students need different context and situations in their learning.

So that mathematics can be taught more attractive, so Ebbutt and Straker gave the suggestions:
1. Preparation of teaching stage
2. Learning stage
3. Evaluation stage


INOVASI PEMBELAJARAN UNTUK MENINGKATKAN GAIRAH SISWA DALAM BELAJAR
By: Dr. Marsigit, M.A.
Reviewed by: Fikri Hermawan

Managing teaching learning is not a simple problem. At least four point of view what we should do to manage teaching learning process ( Kuhs and Ball, 1986 in Grouws, 1992) :
1. The group that believes that learning should be emphasized on understanding the material
2. Groups who argue that learning needs give priority to the learning outcomes
3. The group that believes that learning should learner-centric subjects, so that they can develop and build knowledge
4. The group that believes that learning should starting from the planning of classroom management that is conducive to learning

Learning should provide opportunities for teachers to using the choice of teaching methods are adjusted with the level of students abilities such as: method of exposition by the teacher, discussion method, problem solving method, discovery metdod, basic training skill and principles, and also application method.

There are three aspects that the teacher have to pay attention, cognitive aspect, affective aspect, and psycomotor aspect. Development of Cognitive Aspects Ebbutt and Straker (1995: 60-75), gave his view that in order potential students can be optimally developed, assumptions about the characteristics of students and implications for learning is given as follows:
a.    The students will learn if they have the motivation
b.    The students studying in their own way
c.    The students learn both independently and through cooperation with friend
d.    The students need the context and circumstances that vary in their study

There are several classifications (taxonomy) affective aspects, such as taxonomy by krathwhol, et al (1981) and taxonomy by Wilson (1971). According to Krathwhol affective aspects include receiveing, responding, formating of values, the organization and characterization. In addition to aspects of cognitive and affective aspects, aspects of psycomotor skills (Performance) also have an equally important role for know the student's skills in solving problems.


PHILOSOPHICAL EXPLANATION ON MATHEMATICAL EXPERIENCES  OF THE FIFTH GRADE STUDENTS
                         

By: Dr. Marsigit, M.A.
Reviewed by: Fikri Hermawan

Tingkat diskusi filosofis memiliki karakteristik tersendiri seperti kebutuhan untuk cross-check serta membandingkan dengan beberapa titik pandang independen, untuk membangun teori umum tentang subjek terkait. Mackenzie, JS, (1917), menyatakan bahwa filsafat harus memperhatikan hasil penyelidikan umum dari semua ilmu sebagai usaha untuk membangun sebuah teori umum. Untuk mencapai tujuan, penulis menggunakan beberapa pendekatan filosofis seperti interpretasi, coherences internal, idealisasi, perbandingan, analogi dan deskripsi. Berdasarkan pendekatan-pendekatan, penulis menyesuaikan Hermenetics Greimas Struktural Analyses untuk menunjukkan hubungan antara komponen-komponen pengajaran penomoran desimal dengan materi fisik seperti yang dilakukan sebagai bagian dari penelitian Kaye Stacey dkk.

Penelitian ini telah memberikan peneliti wawasan ke dalam peran yang berbeda dari ketaatan epistemis dan aksesibilitas bahan pembelajaran fisik. Para peneliti berpendapat bahwa ketaatan epistemis diperlukan untuk mengajar yang baik didasarkan konsep dengan model, sedangkan aksesibilitas mempromosikan keterlibatan kelas. Ketaatan epistemis dan aksesibilitas memiliki peran yang berbeda dalam pembentukan transparansi. Dari semua temuan tersebut, penulis berusaha untuk mengembangkan metode untuk mengungkap apa yang ada di balik konsep-konsep. Lebih dari semua itu, kita menganggap untuk status pengetahuan matematika yang dimiliki siswa dihasilkan dengan memanipulasi bahan fisik, dalam skema dari Greimas Struktural Hermenetics Analyses.

Jika perbedaan antara dua jenis persepsi masih mitos, maka kita masih bisa berdebat pada status pengetahuan matematika. Seperti diakui oleh para peneliti bahwa beberapa bahan manipulatif dapat mengganggu salah tafsir dan terbuka, bisa menjelaskan dengan teori doubleaffection karena fakta bahwa para guru sudah akrab dengan konsep-konsep yang disajikan. Penulis memandang bahwa gagasan Kant tentang penampilan dalam diri mereka dan hal dalam diri mereka sendiri berguna untuk menjelaskan masalah visibilitas dan atau tembus dari perangkat mekanik.

Penulis menekankan bahwa konteks yang berbeda, yaitu dalam jangka waktu dan ruang seperti yang diberitahukan oleh Kant, dapat mempengaruhi persepsi siswa dari objek. Oleh karena itu, guru perlu untuk membuat orang-orang di sekitar siswa semacam faktor sebagai pendukung satu dalam belajar mengajar matematika. Hubungan antara fitur dari perangkat dan pengetahuan target sangat intensif akan dibahas oleh Kant dalam Critical of Pure Reason. Teori umum dari aspek proses belajar mengajar matematika adalah untuk mengejar dalam jangka waktu hubungan siswa sebagai bahan subyek dan fisik sebagai obyek dalam skema Hermenetics Greimas Struktural Analyses. Upaya untuk mengejar hubungan tersebut akan menentukan tingkat kualitas sudut pandang filosofis


ENGLISH FOR VOCATIONAL EDUCATION

By: Dr. Marsigit, M.A.
Reviewed by: Fikri Hermawan

Berdasarkan dengan konsep kompetensi komunikatif, faktor-faktor berikut harus ada dalam pendidikan kejuruan bahasa inggris:
a.       Kemampuan berbahasa inggris yang memadai.
b.      Dalam berkomunikasi, siswa diharapkan untuk berinteraksi dengan siswa lain serta komunkasi dalam proses pembelajaran konten dalam bahasa Inggris .
c.       Siswa harus diberi kesempatan cukup untuk mengembangkan konten pengajaran dalam bahasa inggris.
d.      Peran guru tidak hanya untuk memfasilitasi komunikasi tetapi juga untuk memfasilitasi bahwa bahasa inggris dijadikan sebagai alat komunikasi utama.
e.      Perlu bagi guru untuk memberi dorongan siswa untuk membiasakan berbicara dalam bahasa Inggris.
f.        Perlu bagi guru untuk mengembangkan media dan alat bantu pengajaran yang mendukung baik isi pengajaran dan Inggris

Di dalam mengembangkan metode mengajar pelajaran di dalam Bahasa Inggris guru harus menyediakan peluang kepada siswanya untuk aktif. Selain itu guru juga melibatkan siswa secara aktif untuk berdialog, melibatkan para siswa dalam tugas-tugas dunia nyata, menciptakan jaringan siswa dan guru. Siswa dan guru juga harus menjalin kerjasama dalam mengembangkan teknologi dan informasi, keterampilan, memberi tugas tepat, memberi motivasi kepada siswa untuk berpartisipasi aktif dalam pembelajaran.

Di era globalisasi ini perkembangan teknologi, informasi dan komunikasi berkembang pesat dalam kehidupan sehari – hari, baik dalam dunia pendidikan maupun dalam dunia pekerjaan. Untuk menghadapi itu semua diperlukan bekal yang matang untuk menghadapinya. Sebagai seorang pendidik adalah sangat penting untuk membekali siswa sekolah dengan keterampilan yang diperlukan dan pemahaman untuk memungkinkan mereka untuk merasa dan menjadi kompeten dalam bidang ini.

Kamis, 08 Desember 2011


Pengembangan Kompetensi Guru Matematika SMP RSBI Melalui Lesson Study

By: Dr. Marsigit, M.A.
Reviewed by: Fikri Hermawan

Education has a vital role in the process of improving the quality of human resources. Therefore, education is expected to be one vehicle to prepare the nation's generation, so the birth of human resources that are reliable and have the ability to face the dynamic development of science and technology today are fast, precise and effective. The purpose of learning mathematics, namely: Train ways of thinking and reasoning in drawing conclusions, develop creative activities, develop problem-solving skills, and developing skills in conveying information or communicate ideas.

Lesson Study conducted activities consist of classroom action research in each school along with observations by teachers and researchers and continued with a reflection activity. Researchers plan to conduct at least two cycles. Each rotation cycle of action includes planning, implementation of actions and observations, and reflections. In the first cycle, the activities carried out at this stage is to develop guidelines for observation, interview guidelines, and questionnaires on the results of discussions with faculty research mentors. In the second cycle, the activities carried out in the second cycle has a purpose for improvement of the first cycle.

This study aims to enhance the pedagogic competence, professional and social teaching of mathematics at SMP RSBI through Lesson Study in three school SMP Negeri 1 RSBI Wates, SMP Negeri 1 Bantul, SMP Negeri 1 Galur, Kulon Progo. Lesson Study activities are held at large running smoothly, but since the eruption of Mount Merapi, then there are adjustments and repair schedules. Lesson Study activities developed capable of encompassing the research activities of students by developing an instrument of reference chosen.

Teacher Competencies developed include: Competency develop realistic approach to mathematics, Mathematical Competence development and competence develop methods Thingking discussion, between teachers and pupils and between pupils and students, methods of solving problems and methods of investigation. While the student activities related to teacher competence is examined and analyzed independently by the student for the purpose of writing a thesis.



INOVASI PEMBELAJARAN UNTUK MENINGKATKAN
GAIRAH SISWA DALAM BELAJAR

By: Dr. Marsigit, M.A.
Reviewed by: Fikri Hermawan

Teachers in managing the learning is not easy because often find that students sometimes have difficulty in learning (Jaworski, 1994: 83). Therefore there is no right way to teach. And a multitude of facts obtained that is not easy for teachers to change teaching style (Dean, 1982: 32). While we as educators are required to always make the learning method in accordance with the demands of changing times (Alexander, 1994: 20). Judging from the lecturer or teacher's teaching style, there are two polar views of the results-oriented and process-oriented.

If teachers are required to innovate learning then he should be part of a system that promotes innovation as well. Given the teacher in organizing learning often use the textbook as a reference, then so too can become an obstacle for its innovation efforts (Schifter, 1993). Furthermore, he stated that if the teacher has had the desire to innovate, so it may not necessarily occur if policymakers do not give a chance for it. This shows how the concept of plural potential disagreement from the start point for educational innovation.

Competency-based education, now as an alternative to organized learning that emphasizes the skills that should be owned by the graduates; curriculum was developed based on the elaboration of a basic skills competency standards. Standards of competence is an ability that can be performed or displayed in learning, while the minimum basic skills is an ability in the subject which should be owned by students. Basic skills may include the ability of affective, cognitive and psychomotor. The core of the curriculum is competency based on contextual teaching and learning (CT & L), meaningful teaching, attention to life skills in the form of generic skills (personal skills, social skills, academic skills and proficiency skills).

All abilities or competence developed was assessed by the principle of authentic assessment that is not only on memory and comprehension level but up to the application. So that teachers can create learning innovations can make a passionate enthusiasm for student learning, there are some concepts that need to be understood about the nature of science includes understanding each field, the nature of the subject students, and changes in attitude and implementation associated with the change of paradigm.